Riyadh, 17 august 2008

6th month-versary of our marriage

Suamiku, yang telah menikahiku selama 6 bulan ini adalah orang yang hebat, hebat, hebat. Nobody perfect, for sure, but he is the perfect one for me.

Rasanya tak ingin berhenti bersyukur pada Allah untuk anugrah yang indah ini.

Suamiku, adalah orang yang tidak begitu aku kenal, awalnya. Aku yakin dia adalah orang yang sholih, karena itu aku memutuskan untuk mau dinikahi

Suamiku, orang yang begitu kuat mempertahakanku untuk tetap berada di sisinya

Suamiku, orang yang selalu berpikiran positif akan setiap sisi kehidupan kami, juga tentang segala cita cita dan masa depan kami

Suamiku, menggugahku untuk bangkit dan membesarkan hatiku kembali, di saat aku terpuruk

Suamiku, selalu menyentuh hatiku dengan kelembutannya

Suamiku, dengan segala kelucuannya, selalu membuatku tertawa

Suamiku, bisa membuatku bahagia dengan pandangan matanya

Suamiku, selalu menjagaku dan memastikan bahwa aku baik-baik saja

Suamiku, menyukai masakanku, betapapun bentuk dan rasanya

Suamiku, selalu mendukung, mendorong dan membantuku, mengajakku to be better person

Suamiku, sangat menyayangiku sebagaimana aku sangat menyayangi dan menghormatinya

Suamiku, adalah orang yang rajin dan sangat menyayangi Ibunya. Suatu kali dia menyapu rumah dan Ibunya bilang, istrimu adalah orang yang beruntung. Apakah karena suamiku rajin menyapu?

Bukan, lebih dari sekedar nyapu.

Buatku, rasa penghargaan suamiku terhadap ibu dan istrinya, membuat suamiku menjadi extraordinary husband for me.

Love you hon

<wife>

“Do you have any umroh package?” my husband asked.
“Sure” travel agent’s man said.

And here we go, our second umroh.
As a gift for our 6th month of marriage.
Alhamdulillah…

Setelah umroh pertama kami di bulan juli kemarin, suami dan aku memutuskan untuk berumroh lagi. Seperti ketagihan rasanya. Kemarin sudah mencoba naek pesawat, kali ini diputuskan untuk lewat darat. Mau nyetir sendiri, kasihan suami. Jarak Riyadh- Makkah cukup jauh, 800km lebih. Jadi kami coba search bus. Kebetulan saudi punya SAPTCO, bus milik pemerintah. Saat kami search di peta, di daerah Batha ada kantor SAPTCO, wokay deh, jalan kesana.

Ternyata, bukan murni kantor SAPTCO, tapi travel agent yang banyak bertebaran di sana. Daaan..tidak semua bisa speaking english dengan baik. Hehehe, pyusing deh. Untunglah, di tempat kedua yang kami datangi, si bapak bisa sedikit2 menjelaskan tentang perjalanan umroh. Dia bilang punya umroh package 90 real per orang dah termasuk bus and hotel. Bisa mampir Madinah juga. Waw…seperti murah. Sempet deg2an juga c, kayak apa nantinya. Sebagai perbandingan..umroh yang kemarin kita nyari hotel sendiri, sekitar 100m dari King Abdul Aziz gate, room rate-nya 200 real per hari. Tiket bus SAPTCO sekali jalan ke Makkah 120 real. Lha ini dah bus pp, hotel yang katanya 300m dari Masjidil Haram, plus mampir Madinah juga, berdua cuma 180 real? hmm… menarik buat dicoba. Tentunya, tidak berharap banyak tentang fasilitas yang akan mereka berikan hehehe. Bismillah..

Di hari H-nya, hari rebo kemarin, jam 15 sore kami sudah sampai di kantor travel agent. Si bapak nunjukkin bus yang musti kami naiki dan bilang nanti ganti bus lagi di terminal. Ok deh, kami duduk di bus dan 5 menit kemudian kami jalan. Saat sampai di terminal, sopir cuma bilang nanti masuk di gate 14, in arabic for sure. Weleh2, untung ada orang endonesya juga yang ikutan umroh di dalam bus itu, klo g bisa binun ngartiin maksudnya.

Saat di terminal, dengan culunnya serombongan ini duduk depan gate 14…ticketing :-D . Untungnya salah paham ini ga berlangsung lama, jadi bisa segera pindah ke ruang tunggu di depan gate 14 departure. Buanyaaak banget orang duduk di sana. Aku berbisik sama suami “segini banyak orang, bakalan berangkat umroh semua mas?”. “Ga tau juga” jawab suamiku yang sama bingungnya.

Pukul 16 sore gate 14 dibuka, semua orang dipersilahkan masuk. Byur..langsung deh semua masuk ke gate tersebut. Ternyata..di dalam terminal, sudah tersedia puluhan bus yang siyap untuk berangkat. Ada sekitar 50 bus di sana. Daann..ntah berapa ratus orang yang menyerbu ke dalam terminal. Bus yang manakah yang akan kita naiki? Setelah jalan muter2, rekan endonesya sudah mendapatkan bus-nya. Tapi saat kami menunjukkan tiket kami, ternyata itu bukan bus kami. Beda travel agent rupaya, jadi terpaksa kami harus muter2 nyari lagi. Agak panik, karena tidak tahu apa yang mustinya kami cari. Well, di tiket semua tulisan in arabic. Dan semua bus pake kode arabic juga whuaaa… Untungnya suami ngeh klo tulisan di ujung kanan atas tiket menunjukkan nama travel agentnya. Tiap bus akan memasang nama travel agent masing2.. tapi dimana bus kami? Ternyata bus kami datang terlambat, meski dah muter2 berkali2 ya g bakalan ketemu. :-D Oh ya, bukan bus SAPTCO tentunya.

Alhamdulillah, rupanya di sini orang-orang cukup menghargai family. Meski di depan bus tertulis nama kami duduk di bagian belakang, tetapi saat diatur ulang, kami bisa duduk di bagian depan sendiri. Bismillah perjalanan dimulai pukul 17 sore.

Bus berhenti beberapa kali. Yang pertama, di tepi kota Riyadh, untuk isi bensin dan ke toilet. Katanya c 10 menit, tapi kayaknya hampir setengah jam deh. Trus berhenti lagi jam 21-an untuk makan sholat, katanya c 30 menit tapi jatuhnya sejam. Trus berhenti lagi 2 jam…karena kerusakan mesin :-D Ampyunnn…
Untungnya ada 2 bus lain yang ikut nemeni ndandani (baca: memperbaiki)
Alhamdulilah, in the middle of nowhere di gurun pasir ini, rasa tolong menolong cukup tinggi. Alhamdulilah, teman seperjalanan di sebelah bisa speaking english, untuk menerjemahkan kata2 yang diucapkan si sopir waktu berhenti.

Sepanjang jalan, saat jam sholat tiba, banyak kendaraan pribadi yang berhenti untuk sholat. Subhanallah. Mereka sholat di bahu jalan yang memang sangat lebar <gurun gitu loh>. G kayak di endonesya tentunya, klo sholat nyari masjid dulu. Awalnya c seneng banget liyat gurun, baru sekali ini bisa menatap gurun sepuas-puasnya, belakangan jadi bosen juga hahaha. 12 jam perjalanan bo.
Di tiap tempat berhenti, selalu tersedia tempat sholat, warung makan, swalayan dan ..toilet :-) sayangnya toilet2 ini tidak terawat, jadi kurang eh bahkan tidak nyaman untuk dipake. Menurut suamiku, ada baiknya juga toilet mbayar kayak di endonesya, biar lebih terawat. Point bagus dari orang jualan di sini adalah, g peduli mau di mall di dalem kota atau swalayan kecil di tengah padang pasir gini, yang namanya harga ya segitu2 aj. Air minum ya tetep aja 1 real. Alhamdulillah.. Point yang kurang nyaman diliyat….sampah2 berserakan di mana aj. Orang2 dengan santainya membuang -kaleng, botol minum atau bungkusan apapun yang mereka pegang- begitu saja tanpa merasa bersalah. G peduli itu di halaman tempat berhenti atau di dalam bus. Huff…risih rasanya.

Jam 5 pagi bus berhenti di Madinah. Subhanallah…masjid ini sungguh agung. Tempat sholat putra dan putri dipisah. Kami berpisah sejenak untuk bertemu lagi satu jam kemudian di salah satu tiang di halaman masjid. Toiletnya juga bagus dan banyak. Alhamdulillah, tidak seperti toilet2 di sepanjang perjananan tadi. Di dalam tiap2 bilik juga tersedia shower, jadi bisa digunakan untuk mandi. Setelah sholat dan berdoa di dalem masjid, aku keluar di tempat janjian.

Suami dateng belakangan. Ternyata dia masuk ke makam Nabi dulu. Hehehe, aku sedang bertanya2 dimana makam Nabi, ternyata ada di ujung dari masjid ini. Tinggal masuk ke dalam masjid, teruuuuuus aj, nanti ketemu makam Nabi. Alhamdulillah, saat suami masuk ke dalam masjid tadi, pas saatnya jamaah laki2 masuk ke makam Nabi. Alhamdulillah, saat aku masuk kembali ke dalam masjid, pas saatnya jamaah perempuan yang masuk ke makam Nabi.
:-D beginilah klo tour tanpa guide, searching-searching sendiri.

Dari Masjid Nabawi, perjalanan lanjut ke masjid Quba. Mampir sholat sebentar. Hadist riwayat Sahal bin Hunaif menyebutkan, “Siapa yang keluar dari rumahnya kemudian mendatangi masjid Quba lalu sholat di dalamnya, maka pahalanya seperti ia melakukan umroh”. Semoga perjalanan kami ini bernilai 2 kali umroh…Amin.

Perjalanan lanjut ke bukit Uhud, dimana ada makam di sebelahnya. Tadinya kami sama-sama tidak tahu, makam siapa ini. Setelah buku Sejarah Madinah di buka lagi, ternyata makam para syuhada. Tidak semua orang ikut turun kali ini. Setelah kami balik ke bus, ternyata kami dimintai 20 real untuk ziarah, pantesan….:-D

Perhentian berikutnya di masjid Miqat. Untuk berganti baju ihram. Di halaman parkir sudah menunggu satu mobil pick up yang berjualan perlengkapan ihram. Cerdas juga penjual ini memanfaatkan situasi. Laris juga lho.
Masjid Miqat memiliki menara dengan tangga berputar di luar, tampak cantik dan anggun. Taman-taman juga dijaga rapi. Toilet dan tempat mandi disediakan banyak sekali.

Pukul 12 siang bus berangkat menuju Makkah. 4 jam perjalanan kata sopir. Jam setengah tiga bus berhenti untuk sholat dan makan siang. Pukul 17 sore bus baru sampai di Makkah. Alhamdulillah, hotelnya cukup memadai untuk istirahat. Karena family, kami dapet prioritas untuk mendapatkan kamar duluan dan terpisah dari yang lain. Untuk single mereka akan sharing kamar. Hotel lumayan juga dari Masjidil Haram, kira2 perlu jalan kaki sekitar 5-8 menit, melewati pasar. Bisa nyampe 10-15 menit c, kalo kelamaan tengak tengok toko-toko sepanjang jalan :-D

Setelah maghrib, kami melakukan Thawaf. Alhamdulillah, thawaf dan sholat sunat di belakang maqam Ibrahim masih sempet dilakukan sebelum Isya. Abis sholat, clingak clinguk nyari suami, kok sudah tidak ada lagi di sisi. Yah, ilang deh. Padahal dah mepet Isya. jadi langsung keluar dari area belakang maqam karena di umroh yang dulu menjelang sholat Isya susah bener nyari tempat sholat buat perempuan. Begitu dapet tempat, eh pas suami sms ngasih tau meeting point ntar abis sholat. Alhamdulillah, teknologi memudahkan untuk keep in touch.

Setelah Isya baru Sai. Kami ambil Sai di lantai dua, relatif lebih sepi dan tidak berdesakan seperti di lantai satu. Kebetulan juga, masih ada pembangunan tambahan di dekat Sai lantai satu, jadi banyak debu – debu yang bertebaran. Di lantai dua ini banyak anak-anak dengan baju ihram mereka, mengikuti orang tuanya. Mereka tampak cute dan lucu dengan baju ihram yang mungil2 itu :-) Bagus juga, dari kecil sudah dikenalkan dengan ibadah umroh.

Alhamdulillah, sewaktu umroh pertama di bulan kemarin kami sudah dibimbing oleh kakak ipar yang kebetulan juga sedang berada di Makkah, jadi tidak mengalami kesulitan untuk menjalani umroh ini sendiri tanpa pemandu.

Paginya baru kami berdoa di Multazam. Daftar doa kami cukup panjang, salah satunya adalah untuk momongan. Betapa kami sangat ingin mendapatkan keturunan yang sholih, Amin… Alhamdulillah, kami sangat dimudahkan untuk mendekat ke Multazam. Selesai berdoa di Multazam, aku minta pada suami untuk sholat di Hijr Ismail. Saat mendekat, ternyata Hijr sedang dibersihkan dan kami berada di antrian depan saat proses pembersihan selesai dilakukan. Alhamdulillah..dimudahkan juga untuk sholat di dalam Hijr Ismail.

Selesai sholat Jumat, kami bergegas kembali ke hotel untuk bersiap pulang ke Riyadh. Proses keluar dari Masjidil Haram pun makan waktu, karena orang-orang juga bergegas untuk keluar. Belum lagi botol minum kami belum diisi zamzam. Tadinya mau diisi di kran depan setelah selesai jumatan. Tapi, ternyata antriannya cukup panjang. Huff, g mungkin balik masuk, jadi antriiii deh. Kebiasaan orang-orang untuk membawa botol dengan berbagai ukuran -mulai dari 600ml sampe 5 liter hehehe- membuat antrian ini semakin lama. Mending kalo antri, ini c berdesakan.

Selesai dengan zamzam, masih pengen nyari makan siang dan jus. Suami nyari makan, aku masuk bin dawood nyari jus. Ternyata pelayan toko di sini dah apal dengan wajah endonesya dan bisa berbahasa dengan lancar :-D ketauan deh, hobi orang endo yang suka belanja.
Di tengah jalan pulang ke hotel, masih pengen beli air zam zam dalam drigen besar. Kedua tangan penuh dengan tentengan euy :-D

Sampai di lobi hotel, wuitz, ternyata bukan hanya kami yang ingin pulang. Banyak orang antri di depan lift untuk naek ke atas, sementara lift hanya dua. Karena aku harus berganti abaya, jadi aku harus ke kamar kami di lantai 9 …. lewat tangga! ngos..ngos..ngos. Belum lagi di tengah perjalanan, ternyata ditemukan lantai “tambahan” :-D 10 lantai deh. Suami nyusul di belakang setelah menitipkan barang – barang belanjaan di resepsionis, ngos-ngosan juga ;-P

Berangkat dari Makkah pukul 16 sore, berhenti dua kali di pukul 18 dan 22, sampai di Riyadh pukul 2 dini hari di hari sabtu. Total perjalanan ini selama 59 jam dengan lebih dari 29 jam berada di bus. Whuaaah.

Alhamdulillah kembali ke apartemen dengan selamat dan sehat. Lelah, tapi ada kepuasan batin yang tidak terkatakan.

Ingin segera kembali lagi ke Makkah…
Riyadh, 17 Agustus 2008

Menikah dengan suamiku, membuat ku mendapat bonus yang menyenangkan: 4 keponakan yang super hebat! Uuuugh..luv them so.

Ada Sakna (7 tahun) yang centil tapi kadang membuatku terpana dengan kedermawanan dan kebesaran hatinya serta rasa sayangnya terhadap adik-adiknya. Dia sudah bisa mengendong adeknya sejak adeknya umur 5 bulan, waw, om-nya aja blum bisa hihihihi. Dia tahu bahwa menjaga adeknya itu penting. Dia juga bisa mengalah untuk adek-adeknya. Kakak yang hebat. Sekarang sudah bisa menggoreng ayam atau nugget sendiri <her fav food>

Yang kedua Maul (6 tahun) selalu kritis menanyakan sesuatu, cerdas, tidak mau diem. Kalau minta sesuatu pasti akan dikejar sampai dapat, semoga begitu juga dengan cita-citamu ya nak. Belakangan ini sering alergi, sepertinya ayam. Setiap kali mau dites alergi apa, eh lha kok kambuh terus. Dia sangat berani, bahkan ngajakin ke dokter kalau merasa dirinya kurang sehat.

Yang ketiga Naela (9 bulan), bayi lucu dengan senyum dan lesung pipitnya yang menawan. Saat terakhir aku tinggal sedang hobi bersenandung dan berjoget2. Alisnya minimalis, kayak tantenya ini. Kepala suku perut buncit dan pipi tembem, dimana tantenya juga anggota suku ini, hehehe. Paling suka menyapu dan kalau sapunya diletakkan, pasti akan nangis kenceng. Suka dengan mainan rumah-rumahan, buku yang tebal, serpihan2 kecil apapun itu. Jago makan, juga ngemil.

Yang keempat, fresh delivery, Hakim (3 pekan) yang nangisnya super kuenceeeng, meskipun lahir sebagai bayi kurang bulan. Rambutnya tebel banget. Anak yang baik, nangis cuma buat ngasih tau klo dia pipis, eek, ato haus. Giliran popok basahnya diangkat, langsung diem. Lahirnya nglimpeke semua orang. Pas orang di rumah tinggal pakde dan budenya. Eyang dan tantenya pas pergi semua.

Keberadaan mereka sangat-sangat berarti buatku. Terlebih pada bulan-bulan awal pernikahan, dimana suami tidak selalu ada di sisi, mereka cukup menyibukkanku dengan tingkah polah yang ga ada habisnya.

Luuuuv them
15 July 2008

Bismillah…

Yes, right on July 17th, 2008 me and my wife have just counted on the fifth month of our marriage.

It’s fun,

It’s full of joy,

It’s loaded with bunch of lessons,

Plenty of memorable moments,

We laugh….together

We cry….together

We pray…together

We eat….together

I learn how to be a great husband

You learn how to be a great wife

We learn how to be a great couple, a great lovers, a great parents

We spend our 5th month-versary of our marriage at the highest building (tower) in Riyadh (or Saudi perhaps). Yes, we went to Kingdom Tower

a couple of lover, at the highest tower in Riyadh :-)

It’s blinking white at that time…

Last,

May Allah gives us HIS ultimate bless as mentioned in At Thuur:21

For those who believed, and their seed (children) also followed them in faith; We will have their children to join them. We never fail to reward them from any work. Every person is paid for what he did